PLASTIK: SEBUAH BERKAH ATAU KUTUKAN?

SEMAR: Sehat-Ekonomis-Manfaat-Artistik-Ramah lingkungan

Di perkenalkan 100 tahun yang lampau, kita mengenal banyak keuntungan dengan adanya plastik. Lebih ringan dibandingkan besi atau kaca, dan plastrik juga lebih mudah dibentuk, cenderung stabil, dan murah biaya produkinya. Saat orangtua kita masih bisa mengingat benda plastik apa yang pertama kali mereka miliki, kita sudah dikelilingi dengan berbagai benda platik disekitar kita. Sekarang ini, plastik  ada banyak jenis dan beragam cara menggunakan plastik. Bayi menggunakan kempeng plastik, anak-anak bermain dengan bermacam-macam mainan plastik, dan kita? Kita masing-masing memiliki sepasang atau bahkan dua pasang sendal plastik. Setiap hari, kita memproduksi berbagai macam sampah plastik, karena, hampir semua barang kita bungkus dengan plastik, untuk kemudian kita masukkan lagi ke dalam kantong plastik.

TIDAK TERELAKKANyog_4237

Pastik terbuat dari limbah kimia dari sisa  industri minyak. Limbah kimia ini tidak lagi bisa diserap ulang oleh tanah disekitar kita. Plastik bukanlah biograde tetapi photograde. Ini berarti bahwa plastik (setelah bersentuhan dengan material sejenis air dan sinar matahari) lambat laun setelah bertahun-tahun, akan terurai menjadi serpihan-serpihan kecil yang beracun. Dan secara kebetulan, potongan-potongan itu bahkan saat potongannya itu menjadi sangat kecil hingga bisa terserap oleh tumbuh-tumbuhan, ikan, dan binatang lainnya yang akhirnya akan kita konsumsi. Saat dibakar, plastik akan menghasilkan molekul dioksin beracun, yang setelah mengalami penguapan, molekul itu akan jatuh kembali ke bumi bersama dengan air hujan, yang akhirnya akan terserap kembali oleh tanah dan hutan. Ini berarti kita tidak bisa sekedar membuang plastik begitu saja, karena dampak sampah plastik ini, melekat dan terus menerus dari generasi ke generasi.

MENGAPA PLASTIK MENJADI ‘MASALAH’?

Banyak sekali alasan mengapa plastik menjadi masalah. Mari kita mulai membahas dari yang paling dekat, yaitu dengan alasan terdekat kenapa plastik berdampak langsung bagi kita.

Plastik tidak hanya merusak saat sudah dibuang sebagai sampah. Kandungan zat kimia dalam plastik, dalam mainan plastik dan lainnya bisa menyebabkan kanker. Beberapa bahan pembuat plastik yang terkandung dalam beberapa barang plastik yang banyak dipergunakan disini, di Indonesia, bahkan sudah dilarang dipergunakan di Eropa. Kandungan yang sangat merusak ini bahkan sudah bisa terdeteksi dalam darah, dari kebanyakan kita, dan bekerja persis sama seperti halnya hormon. Kandungan berbahaya ini bahkan bisa merusak sistem hormonal kita. Beberapa penelitian menunjukkan adanya keterkaitan antara kemandulan dan kanker pada kaum laki-laki dengan unsur berbahaya dalam plastik. Masalah lain yang mungkin timbul adalah berbagai penyakit bawaan lahir atau penyakit degeneratif lainnya.   Molekul BPA yang berbahaya yang bisa memicu serangan jantung, ditemukan dalam kotak plastik, bahan penambal gigi, dan kaleng (1). Molekul-molekul ini terakumulasi dalam tubuh kita dan terpapar sejak dari ibu sampi kepada anak2nya.

HENTIKAN MEMBAKAR SAMPAH PLASTIKyog_4206

Beberapa orang berusaha bersikap ‘anti plastik’ dengan cara membakar sampah plastik secara terang-terangan, dipinggir jalan atau dipekarangan rumah. Ini sangat mengganggu kesehatan. Racun semacam karbon monoksida terlepas bebas ke udara. Racun ini pemicu kanker, impotensi, asma, beberapa jenis alergi, serta berbagai penyakit saluran nafas lainnya. Kandungan beracun yang terhisap dari asap yang dihasilkan karena pembakaran sampah plastik bisa jadi juga memicu ketidakseimbangan hormon. Peneliti menemukan fakta, bahwa menghisap asap pembakaran sampah plastik mengubah karakter seksual pada beberapa jenis burung, dari jantan menjadi betina. Mereka menemukan fakta, bahwa beberapa efek semacam itu dimungkinkan juga bisa terjadi pada manusia. Membakar plastik, jika tidak dilakukan dalam temperatur tertentu, tidak serta merta menghancurkan plastik tersebut dengan segala kandungan racun didalamnya. Bahkan abu sisa pembakarannya juga tetap saja membahayakan, hingga semestinya tidak bisa begitu saja kita buang ke dalam tanah. Plastik tidak seharusnya dibakar di tempat terbuka. Ada beberapa opsi daur ulang yang bisa kita lakukan untuk memanfaatkan sampah plastik.

LANJUTAN:

Indonesia, merupakan negara kedua penghasil plastik terbesar di Indonesia, hanya sedikit lebih rendah dari China. Maka sebaiknya, ini jadi isu besar bagi kita. Kita akan lanjutkan bagian kita ini dengan bahasan mengenai sampah plastik dilautan, berbagai sistem pengelolaan sampah di Jogjakarta, ecobricks dan berbagai alternatif solusi yang bisa kita lakukan, sebagai wujud keterlibatan kita  untuk mendaur ulang atau memanfaatkan kembali sampah yang kita hasilkan, sebagai upaya kita mengurangi sampah plastik.

Jika kamu tertarik untuk berbagi informasi atau ingin tergabung dengan SEMAR, silahkan hubungi kami. Kami juga sangat tertarik untuk mengetahui, dimana alternatif pemanfaatan sampah ekologis di Yogyakarta.

Upcycling sebagai sebuah sikap

SEMAR: Sehat-Ekonomis-Manfaat-Artistik-Ramah lingkungan

Ketika saya harus mencari organisasi berwawasan lingkungan yang ada di daeraah tersebut (Jogjakarta), teman menyarankan saya untuk mengunjungi kota Salatiga. Setelah melewati perjalanan dengan pemandangan a;am yang memukau di kaki Gunung Merbabu, saya bertemu dengan salah seorang anggota SAPU dan Komunitas TUK. Di sebuah rumah joglo, saya disambut oleh Rudy dan Ayok, dua orang penggagas dan sekaligus anggota TUK. Saya tidak bisa menahan diri untuk tidak melihat-lihat ruang pamer benda-benda upcycle buatan mereka, dimana perhiasan, tas, hingga barang-barang upcycle yang lainnya di pajang.

yog_3842
Produk upcycle dari SAPU

Di halaman belakang, saya melihat dan mendengar orang-orang bekerja dengan mesin jahit, mesin jahit khusus yang sudah di modifikasi oleh Ayok. Disini, SAPU membuat barang-barang yang berseni dan bermakna, dari ban bekas baik ban dalam atau ban luar, drum bekas, botol bekas, majalah bekas, juga barang bekas lainnya agar bisa menjadi barang yang lebih berguna dan berseni.

Menggabungkan berbagi usaha untuk menciptakan perubahan

‘SAPU?’ saya bertanya dengan heran, bukankah itu adalah alat pembersih lantai dalam Bahasa Jawa.

‘Ya” Ayok menjawab sambil tertawa, dibuat dari banyak batang lidi yang diikat secara bersama-sama. Sama seperti halnya sapu, SAPU merupakan gabungan dari banyak orang yang terdiri atas ilmuwan, aktivis, seniman, musisi, teman, perancang, penjahit, pengumpul sampah, penulis, penggrajin, baik darii Jawa Tengah, Indonesia, dan Australia, mereka bersepakat untuk kreatif dan produktif, dan lepas dari itu semua, mereka ingin membuat perubahan.

Mereka memasarkan produk buatan mereka dengan cara yang etis baik secara profesional maupun sosial. Empatbelas pekerja mereka semua mendapatkan upah yang layak, asuransi, bonus, juga jam kerja yang jelas.

yog_3830
Ayok, prancang desain di SAPU. Lihat lampu upcyle di atas

Menginspirasi baik didalam maupun di luar negeri

Selama ini banyak produknya diperjual belikan di Bali dan di luar negeri, hanya kisaran 25% nya saja yang dibeli oleh orang Indonesia. Ini bukan masalah harga jualnya, karena barang-barang yang berjenis  sama di pusat perbelanjaan kadang malahan lebih mahal dari barang upcycle, tetapi karena barang upcycle ‘kurang’ menarik. Namun demikian, baik produk maupun gagasan mereka tersebut cukup mendapatkan perhatian dan dukungan dari masayarakat luas.

Tujuan kami tidak hanya melulu membuat produk yang menarik dan berseni, tetapi membuat dan mengajak orang berpikir tentang hidup yang berkelanjutan dan tentang bagaimana mereka peduli dengan lingkungan mereka sendiri, begitu pendapat mereka.

Kami berharap, akan menginspirasi munculnya perubahan lingkungan ke arah yang lebih baik, dengan mengubah peilaku dan sikap hidup orang-orang yang datang ke SAPU upcycle.

Berawal dari kegiatan bersih sungai

Kebanyakan bahan baku di SAPU sekarang ini, kami beli dari bank sampah. Tetapi pada mulanya, kegiatan ini muncul karena ada acara bersih sungai pada tahun 2006. Seorang kawan yang kebetulan seniman, membuat dompet dari sampah plastik yang dikumpulkan. Acara tersebut merupakan bagian dari sebuah acara yang digelar tahunan, yaitu Festival Mata Air. Dengan menggabungan seni dan semangat, kami, seniman, relawan, dan aktivis, bergabung untuk bersama dan sepakat untuk melakukan sesuatu yang berkaitan dengan lingkungan, khususnya untuk konservasi air. Saya sangat yakin, bahwa menumbuhkan ideologi lingkungan dalam diri manusia itu, sama pentingnya dengan menanam pohon itu sendiri, kata Rudy, salah seorang penggagasnya. Maka, selain mengadakan pameran, seminar, workshop, penanaman pohon, mereka juga mengorganisir diadakannya kegiatan bersih sungai dan mata air.

Gagasan terus saja berkembang, banyak energi positif mereka dapatkan demi pemanfaatan barang bekas agar lebih bernilai, dan bukan saja barang bekas, namun juga barang-barang yang bahkan sudah dibuang. Kami melihat banyaknya kesempatan pemanfaatn barang-barang yang kami anggap ‘bekas’, kata Ayok, sebagai perancang sekaligus kapala bagian kreatif di SAPU.  Di tahun 2010, SAPU dan TUK membelahdiri menjadi 2 lembaga, satu berwawasan sosial (non profit) sedang satunya sebagai sebuah usaha(profit), tetapi mereka tetap merupakan suatu kesatuan.

Proses dari dimulainya sebuah perubahan

yog_3843
Berbagai produk upcycle dari SAPU

TUK membuat mainan dari bahan daur ulang, sebagian dibuat bahak bersama anak-anak.  Saya kaget saat mendengar bahwa mereka bahkan pernah membuat arena bermain anak, yang keseluruhan bahan-bahannya adalah bahan daur ulang, semacam ban bekas baik ban dalam maupun ban luar, dan bahan yang pernah dipergunakan sebelumnya(bekas). Keadaan semacam ini, saat sesuatu yang baru diciptakan melalui sesuatu yang pernah digunakan sebelumnya, umumnya akan dipergunakan sebagai momen untuk berbagi ilmu tentang lingkunganbaik secara lokal maupun global.“ Kita berkampanye untuk mengajak orang mulai untuk berpikir! Disinilah proses perubahan itu terjadi,‘Rudy menegaskan.

Lebihlanjut, workshop di berbagai sekolah(bahkan juga di Australia) atau untuk berbagai agen perjalanan yang berwawasan ekologis seperti Via-via, merupakan kesempatan yang bagus untuk mendapatkan pemasukan yang jelas. Semua anggota TUK bekerja secara sukarela, tetapi uang jelas mereka butuhkan untuk pembiayaan operasional. Kebanyakan kegiatan dimana TUK terlibat dibiayai oleh beberapa teman, yang akan membantu semampu mereka saat diperlukan.

Proyek yang sedang berjalan adalah membuat beberapa bank sampah, pepustakaan di Salatiga, dan percobaan membuat rumah dengan bahan upcycle agar bisa menjadi contoh sekaligus menginspirasi pihak lain. Sebagai tambahan, sebuah tempat baru sedang di buka di Ubud, Bali, tempat dimana akan menjadi lokasi  Festival Mata Air tahun depan.

Semua ada di tangan kita

Saya katakan, bahwa saya sungguh terkesan dengan segala sesuatu yang sudah dicapai, dan betapa saya tergugah dengan suasana yang istimewa dan sedikit berbeda, yang kita bisa rasakan sesaat kita memasuki bangunannya. Dan menurut saya, tetap saja, merupakan tugas pemerintah setempat untuk mendukung segala upaya pengurangan sampah dan memastikan masyarakat mampu mengelola sampah mereka.

yog_3867
Bengkel kerja SAPU yang bertembat dihalaman belakang

“Pemerintah setempat biasanya membantu kegiatan kami,”Rudy sedikit kesal. Tetapi biasanya mereka tidak tertarik untuk terlibat atau setidaknya mengalokasikan separuh saja pembiayaan mereka untuk workshop, mereka meminta kita melakukan untuk mereka. Kamu tidak bisa mengandalkan mereka(pemerintah) untuk urusan ketahanan lingkungan. Kita bahakan tidak pernah punya pesta untuk lingkungan di negara ini. Ini bercanda!!”

Jadi, sepenuhnya ada ditangan kita untuk membagikan ini pada dunia. Silahkan bagi artikel ini jika kamu berkenan. Kita akan segera mengunggah beberapa seri blog yang berkaitan dengan plastik dan sampah. Jadi jangan sampai melewatkannya yaa..

Sayuran Organik yang Lezat

SEMAR- Segar-Enak-Mahal-Adil-Rajin

 

Terdapat beberapa, sedikit, tepatnya, pasar organik yang cukup nyaman di Jogja. Dan semakin lama, semakin banyak orang yang berubah selera dengan lebih sering mengkonsumsi sayuran atau makanan organik. Beberapa yang lain merasa bahwa mengkonsumsi makan organik sekaligus berarti menyelamatkan alam. Beberapa bertanya tentang apa keuntungannya mengkonsumi makanan organik, terdengar heboh dan lebih mahal dibandingkan sayuran biasa yang justru lebih mudah kita dapatkan dimana-mana.

Bertani organik berarti bertani selaras dengan alam, tidak bertentangan (penggunaan pestisida berarti melawan alam). Denagn cara demikian, bukan hanya penikmat makanannya saja yang diuntrungkan, dengan bisa menikmati makanan yang sehat sekaligus lezat, tetapi juga bumi yang mendapatkan keuntungannya juga. Mari kita lihat Pasar Organik lokal, dan mari kita lihat bagaimana petani organik kita melakukannya.

Mas Ari, petani organik dari Pakem, Yogyakarta
Mas Ari, petani organik dari Pakem, Yogyakarta

Mengapa organik?

Bertani organik artinya bekerja dengan alam, bukan menentangnya. Yang artinya kandungan pestisida yang sedikit, tidak menggunakan pupuk buatan, atau penyubur tanaman, dan pengelolaaan lahan yang berkelanjutan yang berwawasan lingkungan. Ini berarti juga ketersediaan bibit tanaman lokal yang bisa dibuat ulang tanpa harus tergantung kepada perusahan agrisbisnis yang besar.

Butuh Kerja Keras dan Kasih Sayang

“Butuh kerja keras dan limpahan kasih sayang” itu adalah ungkapan Mbak Septi, penjual sayuran organik, yang berjualan bersama suaminya, Mas Budi, di pasar organik Milas. Bertani organik berarti bertani tanpa menggunakan pestisida maupun pupuk kimia. Guna memastikan bahwa air yang mereka gunakan tidak tercemar air dari tanah pertanian yang lain, mereka harus menyaringnya terlebih dahulu. Petani lain yang kami temui di Pkem mengatakan bahwa mereka butuh 3 tahun sebelum memastikan bahwa produk sayuran mereka organik. Tanah yang mereka gunakan membutuhkan waktu selama itu untuk menjadi normal. Dan selama itu pula mereka tidak bisa menjual hasil pertanian mereka sebagai ‘sayuran organik’ sekalipun mereka sudah melakukan tatacara bertani organik. Pupuk orgaik tidak di jual dipasaran, sebagai akibatnya, mereka harus membuat pupuk kompos sendiri. Juga sangat merepotkan bagi mereka, cara menghindarkan tanaman dari serangga dan hama lainnya jika tidak menggunanakan pestisida. Cara bertani yang demikian juga sangat memakan waktu. Mereka harus menjual hasil pertanian mereka sedikit lebih mahal karena hal itu. “cukuplah untuk menyekolahkan anak, tetapi masih kurang jika harus mencukupi kebutuhan yang lain,” ujar Mas Ari, petani organik dari Pakem.

Menanan secara organik berarti sekaliguis merawat alam semesta. Di tempat lain, melihat petani konvensional yang harus menambahkan pupuk tambahan untuk penyubur tanaman dan juga racun pembasmi serangga, Mbak Septi merasa sangat sedih dan bahkan hampir menangis, ‘bagaimana bisa mereka memperlakukan tanah dan alam seperti itu, tanah yang sudah sangat baik mengurus mereka, tanah yang kelak akan jadi bagian hidup anak-anak mereka?’ ujarnya pilu.

Jalan yang Terjal

Kebanyakan petani di indonesia memilih untuk melakukan pekerjaan lain yang lebih bagus, dengan bayaran yang lebih baik di kota. Hal demikian ini, dipadukan dengan minimnya lahan karena pembangunan gedung-gedung, serta pertumbuhan penduduk di Indonesia, menciptakan kombinasi situasai yang cukup membahayakan.

Sekalipun Indonesia adalah negara dengan varian tetumbuhan yang sngat luarbiasa, namun ternyata cukup sulit mendapatakan bibit tanaman asli Indonesia. Jika dibiarkan hal ini akan mengurangi jernis tanaman lokal Indonesia.

Terlebih lagi, sudah muncul ketergantungan kebutuhan pertnian pada perusahaan besar sekelas Monsanto, baik untuk skala kecil(petani kecil) atau skala industri. Pemerintah Indonesia, bahkan mempercayakan pengadaan bibit padinya pada Monsanto. Sebagai konsekuensinya, mereka juga harus tergantung pada perusahaan tersebut untuk pestisida dan pupuk lainnya.

yog_3197
Mbak Septi dan Mas Budi, petani organik dari Yogyakarta

Resep Smoothies Sayur Mbak Septi

Siapkan  4 tangkai daun Ginseng, 1 tangkai daun Kelor, 3 tangkai daun Krokot, 1 lembar daun Ketumbar lokal, 3 tangkai daun mint, 4 tangkai daun kemangi (sesuai selera), markisa 1buah, pisang 3 buah, bersihkan kemudian blender hingga halus dengan air secukupnya, sajikan.

Jangan Biarkan Pengetahuan Itu Hilang

Di Jogja, gerakan organik dimulai pada tahun 1990an. Pada saat itu, tidak banyak orang tahu, akan bahaya pertanian modern, ujar Imam Hidayat, salah seorang pendiri koperasai SAHANI, koperasi beranggotakan petani-petani organik yang juga memberlakukan prinsip perdagangan yang adil bagi mereka.

Mas Dhana, seorang pengusaha muda, yang berjualan sayur organik di pasara maupun menjadi supllier di pasar-pasar modern, mencoba melakukan pendekatan pada bebera perguruan tinggi pertanian, dan mencari cara, tentang bagaimana mengembangkan pola pertanian organik ini dalam kurikulum. ‘sejauh ini, fakultas-fakultas pertanian tidak sediukitpun memasukkan unsur organik dalam kuyliah mereka, mereka sudah terpengaruh oleh perusahaan seperti Monsanto.’ Hal ini membuat semakin sulitnya membagikan ilmu tentang pertanian organik kepada petani konvensional atau pada praktisi akademisi.

Dan bahkan sekarang ini, tidak banayak orang tahu mengenai dampak dari pertanian konvensional terhadap kesehatan maupun dampaknya bagi alam. Pertanian konvensional, yang didalamnya, menggunakan pupuk dan pestisida kimia (UREA, NPK,dll), berperan besar dalam peningkatan emisi gas, dan mengurangi kesuburan tanah, serta mengihilangkan keanekaragaman hayati.

Jadi, tantangannya sekarang adalah, tentang bagaimana kita bisa mengajarkan lagi tentang bagaimana bertani organik kepada generasi mendatang, cara bertani yang dahulu pernah dilakukan oleh beberapa keturunan dari kita sebelumnya. Kalau kita lihat perkembangan dunia pertanian sekarang, seolah tidak ada pilihan selain menggunakan pupuk kimia dan pestisida. Apalagi jika kita mendengarkan apa kata perusahaan besar pupuk kimia pertanian, tidak ada pertimbangan lain selain jumlah produksi dan keuntungan.

Semestinya kita ingat, bahwa hal tersebut hanya akan memadamkan pengetahuan akan pertanian lokal juga keragaman hayati. Hanya dua atau bahkan satu generasi saja dimasala lalu, yang bertani, tanpa tergantung pada itu (pupuk kimia dan pestisida).

Hormati dan Hargailah!

Namun demikian, pelan tapi pasti, permintaan akan sayuran organik terus meningkat. Mas Ari mendapat kunjungan dari kelompok tani lain, juga pemerintah, yang ingin belajar tentang bertani organik. Hal ini membuatnya bangga dan sekaligus berharap, bahwa suatu saat nanti, akan banyak petani yang mengikuti jejaknya, sehingga tercipa sistem pertanian yang berpihak pada kelestarian alam dan juga kesehatan konsumen. Dia juga berharap, akan semakin banyak pembeli mengetahui, tentang dari mana asal bahan makanan yang mereka konsumsi, serta siapasaja orang yang sudah bekerja keras untuk menyediakan bahan pangan sehat bagi mereka, serta menjaga kesehatan mereka.

Oh! Sangat Menyehatkan!

Mas Dhana, mulai mengubah pola makannya dan mulai berkecimpung dalam dunia pertanian organik semenjak kedua orangtuanya meninggal karena dibetes. Dia mengerti kemudian, bahwa hidup sehat berawal dari apa yang kita makan. Hanya menambah sedikit bahan organik pada menu yang kita makan, tidak serta merta membuat kita sehat. Akan tetapi, menurut sebuah stusi di New Castle University( Inggris ), mengkonsumsi, sayuran, buah dan sereal organik secara terus menerus, akan membuat tubuh kita mengalami peningkatan produksi antioksidan yang menyehatkan, tanpa meningkatan jumlah kalori, sebagaimana hal tersebut juga bermanfaat mengurangi jumlah cadmium8 dan pestisida yang mungkin saja merusak.

Lebih daripada itu, penggunaaan pupuk kimia dan pestisida akan merugikan kesehatan kita, serta berdampak buruk pada lingkungan.

yog_3370
Sayuran organik dari Kopeng

Apa yang bisa dilakukan konsumen?

  • Hormati dan hargailah hasil kerja keras para petani yang kita nikmati melalui makanan yang kita makan atau kita beli.
  • Mari bantu mereka dengan berbagi semangat tentang apa itu makanan organik, dengan cara.
  • Kita dukung petani organik dengan cara membeli langsung dari mereka.
  • Kita bawa tas belanjaan dan kotak makan sediri dari rumah setiapkali berbelanja.
  • Mintalah pengelola pasar modern untuk tidak membungkus sayuran organik dengan plastik.

Plastik? Tidak, Terimakasih!

Konsep menyeluruh dari pertanian organik juga bisa berupa pengurangan limbah. Mbak Septi dan Mas Budi menjadi sangat kreatif ketika mencari bahan yang mereka bisa pergunakan untuk menanam dan juga menjual bibit tanaman. Mereka menggunakan tas bekas atau batok kelapa.

Mas Ari mencoba untuk mengurangi penggunaan plastik sebanyak yang ia bisa, tetapi karena cuaca tidak dapat dipastikan lagi seperti dulu, karena perubahan iklim, ia harus menggunakan lembaran plastik sebagai atap untuk melindungi tanaman nya dari sinar UV.

Di samping pertanian Mas Ari, enam petani organik lainnya, yang juga menghasilkan beberapa jenis komoditi untuk supermarket besar, di mana di pasar modern seperti ini sayuran organik dijajakan dengan cara dibungkus plastik dan styrofoam. Ini sebenarnya bertentangan dengan prinsip hidup selaras dengan alam, sebagaimana kita tahu plastik yang tidak mudah hancur (tidak dapat di’kompos’kan,maka semestinya itu tidak boleh sekali pakai. Pada pasar organik Milas, penjual menggunakan daun pisang untuk membungkus produk mereka. Konsumen juga diminta untuk membawa wadah dan tas mereka sendiri.

yog_3194
Snack dari pasar organik

Berdasarkan Kepercayaan

Beberapa sistem untuk menyatakan lahan di indonesia sebagai “organik”. Untuk menerima sertifikat tertentu, memerlukan biaya yang cukup mahal.  Para petani koperasi Mardi Santoso di Kopeng, yang bersertifikat organik oleh Departemen Pertanian, Tanaman dan Hortikultura tahun 2011, memutuskan untuk tidak memperpanjang sertifikat mereka tahun ini, karena hanya 5 dari 50 petani masih terus bertani organik dan bahkan yang tersisa itupoun, sekarang telah mengalami kesulitan untuk tetap bertahan sebagai petani organik. “Kami memutuskan untuk menjual sayuran kami sebagai” sehat “, bukan sebagai” organik “lagi, kata Pak Subari, salah satu anggota koperasi.

Karena tidak ada label berbasis produk yang menandai berbagai bahan makanan organik, maka konsumen harus mempercayai petani mereka. Jadi yang terbaik adalah untuk membeli sayuran organik secara langsung di pasar, di mana petani dapat menjelaskan bagaimana mereka menanam atau membudidayakan produk-produk mereka. Mbak Septi dan Mas Budi tahu persis apa yang mereka jual. “Kita tahu setiap memperlakukan setiap jenis tanaman yang kita jual karena kita yang merawat mereka setiap hari, mereka bahkan hampir seperti anak-anak kita sendiri”.

Di Eropa, label untuk produk organik adalah tonggak dalam gerakan organik. Sekarang produk organik yang dijual hampir di mana-mana dan “…” mekanisme kontrol membuatnya mudah untuk memeriksa kredibilitas produser. Tapi label tetap hanyalah media. Apa yang lebih penting adalah ide di balik itu: Untuk menjaga pemahaman dan menjaga penghargaan kita terhadap alam. Di pasar lokal, anda dapat berbicara dengan para petani dan membiarkan mereka menjelaskan kepada anda, bagaimana mereka memahami tentang konsep bertani organik ini, bahkan jika tanah mereka tidak bersertifikat. Ini patut dicoba, bukan?