Upcycling sebagai sebuah sikap

SEMAR: Sehat-Ekonomis-Manfaat-Artistik-Ramah lingkungan

Ketika saya harus mencari organisasi berwawasan lingkungan yang ada di daeraah tersebut (Jogjakarta), teman menyarankan saya untuk mengunjungi kota Salatiga. Setelah melewati perjalanan dengan pemandangan a;am yang memukau di kaki Gunung Merbabu, saya bertemu dengan salah seorang anggota SAPU dan Komunitas TUK. Di sebuah rumah joglo, saya disambut oleh Rudy dan Ayok, dua orang penggagas dan sekaligus anggota TUK. Saya tidak bisa menahan diri untuk tidak melihat-lihat ruang pamer benda-benda upcycle buatan mereka, dimana perhiasan, tas, hingga barang-barang upcycle yang lainnya di pajang.

yog_3842
Produk upcycle dari SAPU

Di halaman belakang, saya melihat dan mendengar orang-orang bekerja dengan mesin jahit, mesin jahit khusus yang sudah di modifikasi oleh Ayok. Disini, SAPU membuat barang-barang yang berseni dan bermakna, dari ban bekas baik ban dalam atau ban luar, drum bekas, botol bekas, majalah bekas, juga barang bekas lainnya agar bisa menjadi barang yang lebih berguna dan berseni.

Menggabungkan berbagi usaha untuk menciptakan perubahan

‘SAPU?’ saya bertanya dengan heran, bukankah itu adalah alat pembersih lantai dalam Bahasa Jawa.

‘Ya” Ayok menjawab sambil tertawa, dibuat dari banyak batang lidi yang diikat secara bersama-sama. Sama seperti halnya sapu, SAPU merupakan gabungan dari banyak orang yang terdiri atas ilmuwan, aktivis, seniman, musisi, teman, perancang, penjahit, pengumpul sampah, penulis, penggrajin, baik darii Jawa Tengah, Indonesia, dan Australia, mereka bersepakat untuk kreatif dan produktif, dan lepas dari itu semua, mereka ingin membuat perubahan.

Mereka memasarkan produk buatan mereka dengan cara yang etis baik secara profesional maupun sosial. Empatbelas pekerja mereka semua mendapatkan upah yang layak, asuransi, bonus, juga jam kerja yang jelas.

yog_3830
Ayok, prancang desain di SAPU. Lihat lampu upcyle di atas

Menginspirasi baik didalam maupun di luar negeri

Selama ini banyak produknya diperjual belikan di Bali dan di luar negeri, hanya kisaran 25% nya saja yang dibeli oleh orang Indonesia. Ini bukan masalah harga jualnya, karena barang-barang yang berjenis  sama di pusat perbelanjaan kadang malahan lebih mahal dari barang upcycle, tetapi karena barang upcycle ‘kurang’ menarik. Namun demikian, baik produk maupun gagasan mereka tersebut cukup mendapatkan perhatian dan dukungan dari masayarakat luas.

Tujuan kami tidak hanya melulu membuat produk yang menarik dan berseni, tetapi membuat dan mengajak orang berpikir tentang hidup yang berkelanjutan dan tentang bagaimana mereka peduli dengan lingkungan mereka sendiri, begitu pendapat mereka.

Kami berharap, akan menginspirasi munculnya perubahan lingkungan ke arah yang lebih baik, dengan mengubah peilaku dan sikap hidup orang-orang yang datang ke SAPU upcycle.

Berawal dari kegiatan bersih sungai

Kebanyakan bahan baku di SAPU sekarang ini, kami beli dari bank sampah. Tetapi pada mulanya, kegiatan ini muncul karena ada acara bersih sungai pada tahun 2006. Seorang kawan yang kebetulan seniman, membuat dompet dari sampah plastik yang dikumpulkan. Acara tersebut merupakan bagian dari sebuah acara yang digelar tahunan, yaitu Festival Mata Air. Dengan menggabungan seni dan semangat, kami, seniman, relawan, dan aktivis, bergabung untuk bersama dan sepakat untuk melakukan sesuatu yang berkaitan dengan lingkungan, khususnya untuk konservasi air. Saya sangat yakin, bahwa menumbuhkan ideologi lingkungan dalam diri manusia itu, sama pentingnya dengan menanam pohon itu sendiri, kata Rudy, salah seorang penggagasnya. Maka, selain mengadakan pameran, seminar, workshop, penanaman pohon, mereka juga mengorganisir diadakannya kegiatan bersih sungai dan mata air.

Gagasan terus saja berkembang, banyak energi positif mereka dapatkan demi pemanfaatan barang bekas agar lebih bernilai, dan bukan saja barang bekas, namun juga barang-barang yang bahkan sudah dibuang. Kami melihat banyaknya kesempatan pemanfaatn barang-barang yang kami anggap ‘bekas’, kata Ayok, sebagai perancang sekaligus kapala bagian kreatif di SAPU.  Di tahun 2010, SAPU dan TUK membelahdiri menjadi 2 lembaga, satu berwawasan sosial (non profit) sedang satunya sebagai sebuah usaha(profit), tetapi mereka tetap merupakan suatu kesatuan.

Proses dari dimulainya sebuah perubahan

yog_3843
Berbagai produk upcycle dari SAPU

TUK membuat mainan dari bahan daur ulang, sebagian dibuat bahak bersama anak-anak.  Saya kaget saat mendengar bahwa mereka bahkan pernah membuat arena bermain anak, yang keseluruhan bahan-bahannya adalah bahan daur ulang, semacam ban bekas baik ban dalam maupun ban luar, dan bahan yang pernah dipergunakan sebelumnya(bekas). Keadaan semacam ini, saat sesuatu yang baru diciptakan melalui sesuatu yang pernah digunakan sebelumnya, umumnya akan dipergunakan sebagai momen untuk berbagi ilmu tentang lingkunganbaik secara lokal maupun global.“ Kita berkampanye untuk mengajak orang mulai untuk berpikir! Disinilah proses perubahan itu terjadi,‘Rudy menegaskan.

Lebihlanjut, workshop di berbagai sekolah(bahkan juga di Australia) atau untuk berbagai agen perjalanan yang berwawasan ekologis seperti Via-via, merupakan kesempatan yang bagus untuk mendapatkan pemasukan yang jelas. Semua anggota TUK bekerja secara sukarela, tetapi uang jelas mereka butuhkan untuk pembiayaan operasional. Kebanyakan kegiatan dimana TUK terlibat dibiayai oleh beberapa teman, yang akan membantu semampu mereka saat diperlukan.

Proyek yang sedang berjalan adalah membuat beberapa bank sampah, pepustakaan di Salatiga, dan percobaan membuat rumah dengan bahan upcycle agar bisa menjadi contoh sekaligus menginspirasi pihak lain. Sebagai tambahan, sebuah tempat baru sedang di buka di Ubud, Bali, tempat dimana akan menjadi lokasi  Festival Mata Air tahun depan.

Semua ada di tangan kita

Saya katakan, bahwa saya sungguh terkesan dengan segala sesuatu yang sudah dicapai, dan betapa saya tergugah dengan suasana yang istimewa dan sedikit berbeda, yang kita bisa rasakan sesaat kita memasuki bangunannya. Dan menurut saya, tetap saja, merupakan tugas pemerintah setempat untuk mendukung segala upaya pengurangan sampah dan memastikan masyarakat mampu mengelola sampah mereka.

yog_3867
Bengkel kerja SAPU yang bertembat dihalaman belakang

“Pemerintah setempat biasanya membantu kegiatan kami,”Rudy sedikit kesal. Tetapi biasanya mereka tidak tertarik untuk terlibat atau setidaknya mengalokasikan separuh saja pembiayaan mereka untuk workshop, mereka meminta kita melakukan untuk mereka. Kamu tidak bisa mengandalkan mereka(pemerintah) untuk urusan ketahanan lingkungan. Kita bahakan tidak pernah punya pesta untuk lingkungan di negara ini. Ini bercanda!!”

Jadi, sepenuhnya ada ditangan kita untuk membagikan ini pada dunia. Silahkan bagi artikel ini jika kamu berkenan. Kita akan segera mengunggah beberapa seri blog yang berkaitan dengan plastik dan sampah. Jadi jangan sampai melewatkannya yaa..

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s