Sayuran Organik yang Lezat

SEMAR- Segar-Enak-Mahal-Adil-Rajin

 

Terdapat beberapa, sedikit, tepatnya, pasar organik yang cukup nyaman di Jogja. Dan semakin lama, semakin banyak orang yang berubah selera dengan lebih sering mengkonsumsi sayuran atau makanan organik. Beberapa yang lain merasa bahwa mengkonsumsi makan organik sekaligus berarti menyelamatkan alam. Beberapa bertanya tentang apa keuntungannya mengkonsumi makanan organik, terdengar heboh dan lebih mahal dibandingkan sayuran biasa yang justru lebih mudah kita dapatkan dimana-mana.

Bertani organik berarti bertani selaras dengan alam, tidak bertentangan (penggunaan pestisida berarti melawan alam). Denagn cara demikian, bukan hanya penikmat makanannya saja yang diuntrungkan, dengan bisa menikmati makanan yang sehat sekaligus lezat, tetapi juga bumi yang mendapatkan keuntungannya juga. Mari kita lihat Pasar Organik lokal, dan mari kita lihat bagaimana petani organik kita melakukannya.

Mas Ari, petani organik dari Pakem, Yogyakarta
Mas Ari, petani organik dari Pakem, Yogyakarta

Mengapa organik?

Bertani organik artinya bekerja dengan alam, bukan menentangnya. Yang artinya kandungan pestisida yang sedikit, tidak menggunakan pupuk buatan, atau penyubur tanaman, dan pengelolaaan lahan yang berkelanjutan yang berwawasan lingkungan. Ini berarti juga ketersediaan bibit tanaman lokal yang bisa dibuat ulang tanpa harus tergantung kepada perusahan agrisbisnis yang besar.

Butuh Kerja Keras dan Kasih Sayang

“Butuh kerja keras dan limpahan kasih sayang” itu adalah ungkapan Mbak Septi, penjual sayuran organik, yang berjualan bersama suaminya, Mas Budi, di pasar organik Milas. Bertani organik berarti bertani tanpa menggunakan pestisida maupun pupuk kimia. Guna memastikan bahwa air yang mereka gunakan tidak tercemar air dari tanah pertanian yang lain, mereka harus menyaringnya terlebih dahulu. Petani lain yang kami temui di Pkem mengatakan bahwa mereka butuh 3 tahun sebelum memastikan bahwa produk sayuran mereka organik. Tanah yang mereka gunakan membutuhkan waktu selama itu untuk menjadi normal. Dan selama itu pula mereka tidak bisa menjual hasil pertanian mereka sebagai ‘sayuran organik’ sekalipun mereka sudah melakukan tatacara bertani organik. Pupuk orgaik tidak di jual dipasaran, sebagai akibatnya, mereka harus membuat pupuk kompos sendiri. Juga sangat merepotkan bagi mereka, cara menghindarkan tanaman dari serangga dan hama lainnya jika tidak menggunanakan pestisida. Cara bertani yang demikian juga sangat memakan waktu. Mereka harus menjual hasil pertanian mereka sedikit lebih mahal karena hal itu. “cukuplah untuk menyekolahkan anak, tetapi masih kurang jika harus mencukupi kebutuhan yang lain,” ujar Mas Ari, petani organik dari Pakem.

Menanan secara organik berarti sekaliguis merawat alam semesta. Di tempat lain, melihat petani konvensional yang harus menambahkan pupuk tambahan untuk penyubur tanaman dan juga racun pembasmi serangga, Mbak Septi merasa sangat sedih dan bahkan hampir menangis, ‘bagaimana bisa mereka memperlakukan tanah dan alam seperti itu, tanah yang sudah sangat baik mengurus mereka, tanah yang kelak akan jadi bagian hidup anak-anak mereka?’ ujarnya pilu.

Jalan yang Terjal

Kebanyakan petani di indonesia memilih untuk melakukan pekerjaan lain yang lebih bagus, dengan bayaran yang lebih baik di kota. Hal demikian ini, dipadukan dengan minimnya lahan karena pembangunan gedung-gedung, serta pertumbuhan penduduk di Indonesia, menciptakan kombinasi situasai yang cukup membahayakan.

Sekalipun Indonesia adalah negara dengan varian tetumbuhan yang sngat luarbiasa, namun ternyata cukup sulit mendapatakan bibit tanaman asli Indonesia. Jika dibiarkan hal ini akan mengurangi jernis tanaman lokal Indonesia.

Terlebih lagi, sudah muncul ketergantungan kebutuhan pertnian pada perusahaan besar sekelas Monsanto, baik untuk skala kecil(petani kecil) atau skala industri. Pemerintah Indonesia, bahkan mempercayakan pengadaan bibit padinya pada Monsanto. Sebagai konsekuensinya, mereka juga harus tergantung pada perusahaan tersebut untuk pestisida dan pupuk lainnya.

yog_3197
Mbak Septi dan Mas Budi, petani organik dari Yogyakarta

Resep Smoothies Sayur Mbak Septi

Siapkan  4 tangkai daun Ginseng, 1 tangkai daun Kelor, 3 tangkai daun Krokot, 1 lembar daun Ketumbar lokal, 3 tangkai daun mint, 4 tangkai daun kemangi (sesuai selera), markisa 1buah, pisang 3 buah, bersihkan kemudian blender hingga halus dengan air secukupnya, sajikan.

Jangan Biarkan Pengetahuan Itu Hilang

Di Jogja, gerakan organik dimulai pada tahun 1990an. Pada saat itu, tidak banyak orang tahu, akan bahaya pertanian modern, ujar Imam Hidayat, salah seorang pendiri koperasai SAHANI, koperasi beranggotakan petani-petani organik yang juga memberlakukan prinsip perdagangan yang adil bagi mereka.

Mas Dhana, seorang pengusaha muda, yang berjualan sayur organik di pasara maupun menjadi supllier di pasar-pasar modern, mencoba melakukan pendekatan pada bebera perguruan tinggi pertanian, dan mencari cara, tentang bagaimana mengembangkan pola pertanian organik ini dalam kurikulum. ‘sejauh ini, fakultas-fakultas pertanian tidak sediukitpun memasukkan unsur organik dalam kuyliah mereka, mereka sudah terpengaruh oleh perusahaan seperti Monsanto.’ Hal ini membuat semakin sulitnya membagikan ilmu tentang pertanian organik kepada petani konvensional atau pada praktisi akademisi.

Dan bahkan sekarang ini, tidak banayak orang tahu mengenai dampak dari pertanian konvensional terhadap kesehatan maupun dampaknya bagi alam. Pertanian konvensional, yang didalamnya, menggunakan pupuk dan pestisida kimia (UREA, NPK,dll), berperan besar dalam peningkatan emisi gas, dan mengurangi kesuburan tanah, serta mengihilangkan keanekaragaman hayati.

Jadi, tantangannya sekarang adalah, tentang bagaimana kita bisa mengajarkan lagi tentang bagaimana bertani organik kepada generasi mendatang, cara bertani yang dahulu pernah dilakukan oleh beberapa keturunan dari kita sebelumnya. Kalau kita lihat perkembangan dunia pertanian sekarang, seolah tidak ada pilihan selain menggunakan pupuk kimia dan pestisida. Apalagi jika kita mendengarkan apa kata perusahaan besar pupuk kimia pertanian, tidak ada pertimbangan lain selain jumlah produksi dan keuntungan.

Semestinya kita ingat, bahwa hal tersebut hanya akan memadamkan pengetahuan akan pertanian lokal juga keragaman hayati. Hanya dua atau bahkan satu generasi saja dimasala lalu, yang bertani, tanpa tergantung pada itu (pupuk kimia dan pestisida).

Hormati dan Hargailah!

Namun demikian, pelan tapi pasti, permintaan akan sayuran organik terus meningkat. Mas Ari mendapat kunjungan dari kelompok tani lain, juga pemerintah, yang ingin belajar tentang bertani organik. Hal ini membuatnya bangga dan sekaligus berharap, bahwa suatu saat nanti, akan banyak petani yang mengikuti jejaknya, sehingga tercipa sistem pertanian yang berpihak pada kelestarian alam dan juga kesehatan konsumen. Dia juga berharap, akan semakin banyak pembeli mengetahui, tentang dari mana asal bahan makanan yang mereka konsumsi, serta siapasaja orang yang sudah bekerja keras untuk menyediakan bahan pangan sehat bagi mereka, serta menjaga kesehatan mereka.

Oh! Sangat Menyehatkan!

Mas Dhana, mulai mengubah pola makannya dan mulai berkecimpung dalam dunia pertanian organik semenjak kedua orangtuanya meninggal karena dibetes. Dia mengerti kemudian, bahwa hidup sehat berawal dari apa yang kita makan. Hanya menambah sedikit bahan organik pada menu yang kita makan, tidak serta merta membuat kita sehat. Akan tetapi, menurut sebuah stusi di New Castle University( Inggris ), mengkonsumsi, sayuran, buah dan sereal organik secara terus menerus, akan membuat tubuh kita mengalami peningkatan produksi antioksidan yang menyehatkan, tanpa meningkatan jumlah kalori, sebagaimana hal tersebut juga bermanfaat mengurangi jumlah cadmium8 dan pestisida yang mungkin saja merusak.

Lebih daripada itu, penggunaaan pupuk kimia dan pestisida akan merugikan kesehatan kita, serta berdampak buruk pada lingkungan.

yog_3370
Sayuran organik dari Kopeng

Apa yang bisa dilakukan konsumen?

  • Hormati dan hargailah hasil kerja keras para petani yang kita nikmati melalui makanan yang kita makan atau kita beli.
  • Mari bantu mereka dengan berbagi semangat tentang apa itu makanan organik, dengan cara.
  • Kita dukung petani organik dengan cara membeli langsung dari mereka.
  • Kita bawa tas belanjaan dan kotak makan sediri dari rumah setiapkali berbelanja.
  • Mintalah pengelola pasar modern untuk tidak membungkus sayuran organik dengan plastik.

Plastik? Tidak, Terimakasih!

Konsep menyeluruh dari pertanian organik juga bisa berupa pengurangan limbah. Mbak Septi dan Mas Budi menjadi sangat kreatif ketika mencari bahan yang mereka bisa pergunakan untuk menanam dan juga menjual bibit tanaman. Mereka menggunakan tas bekas atau batok kelapa.

Mas Ari mencoba untuk mengurangi penggunaan plastik sebanyak yang ia bisa, tetapi karena cuaca tidak dapat dipastikan lagi seperti dulu, karena perubahan iklim, ia harus menggunakan lembaran plastik sebagai atap untuk melindungi tanaman nya dari sinar UV.

Di samping pertanian Mas Ari, enam petani organik lainnya, yang juga menghasilkan beberapa jenis komoditi untuk supermarket besar, di mana di pasar modern seperti ini sayuran organik dijajakan dengan cara dibungkus plastik dan styrofoam. Ini sebenarnya bertentangan dengan prinsip hidup selaras dengan alam, sebagaimana kita tahu plastik yang tidak mudah hancur (tidak dapat di’kompos’kan,maka semestinya itu tidak boleh sekali pakai. Pada pasar organik Milas, penjual menggunakan daun pisang untuk membungkus produk mereka. Konsumen juga diminta untuk membawa wadah dan tas mereka sendiri.

yog_3194
Snack dari pasar organik

Berdasarkan Kepercayaan

Beberapa sistem untuk menyatakan lahan di indonesia sebagai “organik”. Untuk menerima sertifikat tertentu, memerlukan biaya yang cukup mahal.  Para petani koperasi Mardi Santoso di Kopeng, yang bersertifikat organik oleh Departemen Pertanian, Tanaman dan Hortikultura tahun 2011, memutuskan untuk tidak memperpanjang sertifikat mereka tahun ini, karena hanya 5 dari 50 petani masih terus bertani organik dan bahkan yang tersisa itupoun, sekarang telah mengalami kesulitan untuk tetap bertahan sebagai petani organik. “Kami memutuskan untuk menjual sayuran kami sebagai” sehat “, bukan sebagai” organik “lagi, kata Pak Subari, salah satu anggota koperasi.

Karena tidak ada label berbasis produk yang menandai berbagai bahan makanan organik, maka konsumen harus mempercayai petani mereka. Jadi yang terbaik adalah untuk membeli sayuran organik secara langsung di pasar, di mana petani dapat menjelaskan bagaimana mereka menanam atau membudidayakan produk-produk mereka. Mbak Septi dan Mas Budi tahu persis apa yang mereka jual. “Kita tahu setiap memperlakukan setiap jenis tanaman yang kita jual karena kita yang merawat mereka setiap hari, mereka bahkan hampir seperti anak-anak kita sendiri”.

Di Eropa, label untuk produk organik adalah tonggak dalam gerakan organik. Sekarang produk organik yang dijual hampir di mana-mana dan “…” mekanisme kontrol membuatnya mudah untuk memeriksa kredibilitas produser. Tapi label tetap hanyalah media. Apa yang lebih penting adalah ide di balik itu: Untuk menjaga pemahaman dan menjaga penghargaan kita terhadap alam. Di pasar lokal, anda dapat berbicara dengan para petani dan membiarkan mereka menjelaskan kepada anda, bagaimana mereka memahami tentang konsep bertani organik ini, bahkan jika tanah mereka tidak bersertifikat. Ini patut dicoba, bukan?

Advertisements

Leave a Reply

Fill in your details below or click an icon to log in:

WordPress.com Logo

You are commenting using your WordPress.com account. Log Out / Change )

Twitter picture

You are commenting using your Twitter account. Log Out / Change )

Facebook photo

You are commenting using your Facebook account. Log Out / Change )

Google+ photo

You are commenting using your Google+ account. Log Out / Change )

Connecting to %s